Ingin Anak Sehat dan Doyan Makan?

Anak merupakan aset yang dapat meneruskan perjuangan suatu bangsa sehingga harus diperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya. Setiap anak akan melewati proses tumbuh kembang sesuai tahapan usianya, tapi banyak faktor yang bisa mempengaruhinya. Pertumbuhan pada anak dapat dilihat dari berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, sementara perkembangan dapat dilihat dari kemampuan motorik, sosial, emosional, kemampuan berbahasa serta kemampuan kognitif.

 Sumber: Prastiwi MH. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 3-6 Tahun. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada. Vol. 10(2), Desember 2019.

 

 

Apa saja permasalahan yang bisa mempengaruhi tumbuh kembang anak?

 

Salah satu permasalahan yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah nutrisi yang bisa menyebabkan penurunan nafsu makan. Umumnya anak kurang nafsu makan disebabkan karena anak mulai bosan dengan makanan yang disajikan, selain itu anak juga sudah mulai bisa memilih makanan apa yang mau mereka makan. Kebanyakan anak-anak juga kurang suka mengkonsumsi buah dan sayur. Padahal buah dan sayur merupakan kelompok pangan sumber berbagai zat gizi mikro yang penting bagi proses metabolisme tubuh. Pedoman Gizi Indonesia (PGS) secara spesifik menganjurkan untuk konsumsi buah dan sayur 300-400 gram/hari/anak balita dan anak usia sekolah, sementara pada remaja sebesar 400-600 gram/hari/anak remaja dan orang tua.

 

Sumber: Hidayati D dkk. Faktor Risiko Kurang Konsumsi Buah dan Sayur Pada Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan Masyarakat. Vol. 5(4) Oktober 2017.

 

 

Beberapa Gangguan Tumbuh Kembang yang Bisa Terjadi Pada Anak Akibat Kurangnya Nutrisi:

1. Stunting

Merupakan kondisi yang menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Secara global, sekitar 1-4 balita mengalami stunting. Masalah gizi terutama stunting dapat memberi dampak negatif yang akan berlangsung dalam kehidupan selanjutnya, seperti penurunan intelektual, rentan terhadap penyakit tidak menular, dan penurunan produktivitas. Stunting memiliki dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek terdiri dari peningkatan mortalitas, morbiditas, penurunan fungsi kognitif, motorik, dan bahasa. Sedangkan dampak jangka panjang terdiri dari penurunan tinggi badan saat dewasa, obesitas, penurunan kesehatan reproduksi, penurunan performa di sekolah, dan penurunan produktivitas dan kapasitas kerja. Dampak stunting bersifat irreversible dan dapat bertahan seumur hidup.

 

Sumber:

Ginting KP dan Pandiangan A. Tingkat Kecerdasan Intelegensi Anak Stunting. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. Vol. 1 No. 1, November 2019.

Ni’mah K dan Nadhiroh SR. Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Media Gizi Indonesia. Vol. 10 No. 1, Januari-Juni 2015.

 

 

2. Wasting (kurus)

Adalah salah satu kondisi yang terjadi pada anak akibat kurang gizi. Dampak dari gizi kurang pada anak dapat menurunkan kecerdasan, produktivitas, kreatifitas, dan sangat berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Faktor penyebab terjadinya wasting pada anak adalah adanya penyakit infeksi dan asupan makanan.

 

Sumber: Putri Kumala dan Wahyono TY. Faktor Langsung dan Tidak Langsung yang Berhubungan dengan kejadian wasting pada anak umur 6-59 bulan di Indonesia tahun 2010. Media Litbangkes. Vol. 23 No. 3, September 2013

 

 

3. Perkembangan Kecerdasan Anak Terhambat

Status gizi pada anak juga dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasannya karena berhubungan dengan konsentrasi dan daya tangkap anak di sekolah. Kecerdasan intelegensi pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor status gizi, hal ini terjadi karena pada masa awal pertumbuhan anak, terjadi pertumbuhan sel-sel neruon otak secara pesat sehingga membutuhkan gizi yang optimal untuk proses pembentukannya. Kurangnya zat gizi berakibat sel-sel neuron yang terbentuk lebih sedikit sehingga kemampuan kapasitas berpikir intelektual anak juga akan menurun.

 

Sumber:

Ginting KP dan Pandiangan A. Tingkat Kecerdasan Intelegensi Anak Stunting. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. Vol. 1 No. 1, November 2019.

 

 

Bagaimana Menu Makanan yang Bergizi Seimbang?

Gizi seimbang adalah susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Menu makanan gizi seimbang dalam materi isi piringku terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan. Namun, anak-anak kerap kali tidak mau mengkonsumsi buah dan sayur, yang mana hal ini dapat mempengaruhi gizi yang dikonsumsi oleh anak. Konsumsi buah dan sayur juga harus mempertimbangkan keberagaman dan manfaatnya bagi tubuh. Buah dan sayur memiliki warna dan manfaat yang berbeda, lalu apa saja arti dari warna buah dan sayur serta bagaimana manfaatnya untuk kesehatan? Warna pada buah dan sayur berkaitan dengan kapasitas antioksidannya. Warna merah, biru dan ungu pada buah dan sayur artinya mengandung anthocyanins, kandungan karotenoid menghasilkan warna merah dan orange pada buah dan sayur, sementara warna hijau menunjukan kandungan klorofil pada buah dan sayur.

 

Sumber: Comert ED, Mogol BA, and Gokmen V. Relationship between color and antioxidant capacity of fruits and vegetables. Elsevier. Vol. 2:1-10, June 2020.

 

Solusi untuk anak yang enggan mengkonsumsi buah dan sayur

 

Buah dan sayur merupakan menu penting sehari-hari yang harus dikonsumsi oleh anak untuk menjaga gizi seimbang. Lalu bagaimana jika anak enggan mengkonsumsi buah dan sayur? Untuk tetap memperoleh manfaat zat gizi dari buah dan sayur, kini sudah hadir beragam suplemen dengan kandungan buah dan sayur, namun dalam pemilihannya perlu dipertimbangkan faktor lainnya seperti kandungan zat gizi yang dapat memperbaiki nafsu makan anak. Salah satu zat yang dapat menambah nafsu makan anak adalah Curcumin yang terdapat dalam Ekstrak Temulawak. Selain fungsi penambah nafsu makan, temulawak juga memiliki efek farmakologis zat aktif sebagai anti-inflamasi (anti peradangan) dan menghambat edema (pembengkakan). Selain memperhatikan kandungan, sediaan suplemennya pun perlu diperhatikan. Suplemen dengan bentuk syrup lebih mudah dikonsumsi dan disukai anak-anak. Berikan 5ml suplemen satu kali sehari setelah makan untuk anak usia 1 tahun, dan dua kali sehari untuk anak 6-12 tahun.